![]() |
| Suasana masyarakat mengamankan tembakau dari hujan Dusun Rongrongan Desa Tobungan - Galis Pamekasan |
Masyarakat Desa Tobungan Pamekasan dan sekitarnya sangat cemas dengan anomali cuaca di akhir penghujung panen tembakau 2021. Cuaca mendung hingga hujan lebat menjadi faktor turunnya harga tembakau 2021, padahal awal musim panen tahun ini harga tembakau bisa dikatakan stabil bahkan semakin naik hingga pertengahan bahkan tidak ada tanda tanda cuaca buruk.
Panen tembakau di Pamekasan dan Madura pada umumnya tidak panen serentak, karena memang masa tanam di setiap daerah atau kecamatan tidak sama. Ada yang menanam tembakau lebih awal ada juga yang lebih lambat. Di kecamatan Galis Pamekasan khususnya di desa Tobungan dan sekitaranya panen tembakau tahun ini serentak pada pertengahan Agustus.
Awal panen, petani optimis harga tembakau akan mencapai hasil maksimal dibandingkan dengan tahun lalu. hal ini sejalan dengan harga tembakau pada tahun ini cukup stabil dan mendekati kenaikan yang signifikan dengan rata-rata harga Rp. 30.000/Kg keatas dan harga estimasi tertinggi (kualitas super) Rp 45.000.
Peningkatan harga terbakau tersebut diakui oleh sejumlah petani di desa tobungan tidak tuntas sampai akhir, artinya ada penurunan yang signifikan pada harga sebelum memasuki masa akhir panen. Hal itu disebabkan oleh anomali cuaca yang melanda penghujung panen tembakau.
Ironisnya, anomali cuaca ini menyebabkan tembakau milik masyarakat tidak kering maksimal, dan berubah kualitas dari pada biasanya. Harganya sangat miris ya tentu sesuai dengan barangnya. Menurut Holis karyawan salah satu gudang di pamekasan. menyebutkan harga tembakau paling jelas berada di belasan ribu.
Mengenai itu sejumlah petani tembakau di desa tobungan mengeluhkan dan pasrah saat panen tembakaunya tidak kering karena cuaca mendung bahkan merasa menderita sebab banyak juga yang terkena hujan.
“ya sudah mau bagaimana lagi, mungkin sudah rejekinya. Yang penting saya sudah berusaha. Kalau dipikir kasar ya apes saat tembakau tidak kering, apalagi gerimis seperti ini, dikeluarkan ditumpuk, dikeluarkan dan terus begitu. Kalau sudah kena hujan atau gak ada panas sehari kalau tembakau itu sudah bisa dikatakan gagal. Karena bagusnya panen tembakau bergantung pada hari pertama. Lewat dari itu, tembakau jadi menghitam kemerahan dan bau”. tutur Sudarmo (27/09/2021).
Informasi yang diterima reporter, masyarakat banyak mengeluhkan dengan cuaca buruk tersebut karena sebagian dari mereka masyarakat ada yang baru pertama kali menjemur, bertepatan dengan hujan dan mendung sepanjang hari. Alhasil tembakau tidak bisa kering bagus dan harganya pasti sangat rendah.
Di desa tobungan, masyarakat yang tembakaunya terkena mendung dan hujan pertama kali cukup banyak. melihat dari segi dampaknya tidak sekedar harga rendah yang didapat, tapi juga faktor kelelahan karena wira-wiri menjemur dan menumpuk tembakau dan tentu membutuhkan banyak orang yang dapat membantu mengamankan jemuran tembakau.
Supradi mengungkapkan bahwa pekerjaan tembakau memang sangat melarat. Butuh kesabaran dalam melakukannya. Namun mengatakan sabar pada kondisi tembakau tidak kering atau terkena hujan tak semudah itu bisa tenang.
“bertani tembakau adalah pekerjaan melarat, dari mulai menanam hingga penjemuran butuh kesabaran . yang ditakutkan petani saat panen tembakau itu ya seperti ini, jemuran tembakau gak kering atau kehujanan. Bilang sabar tidak semudah itu, karena meski tembakau kehujanan mengatakan sabar tidak semudah itu menjadi tenang petani. ” tuturnya (27/09/2021).
Informasi terkait menurunnya harga tembakau pasca anomali cuaca ini dibenarkan oleh jumat (pedagan tembakau), ia menyebutkan bahwa harga tembakau gak bisa naik lagi, justru turun sebab pihak gudang telah menghentikan sortir tembakau dengan kriteria bagus. Hasilnya, petani yang tembakaunya bagus juga digenaralisir dengan harga yang sudah diturunkan.
Sementera Mukit bependapat, bahwa segala sesuatu sudah digariskan. Manusia hanya mengusahakan termasuk dalam bertani tembakau.
“kalau saya sudah cukup berusaha, selebihnya saya serahkan kepada Allah. Kalau masih dirizekikan ke saya tembakau ini besok kering. Harapan saya ya itu tadi, bertepatan dengan cuaca cerah, kering sehari dan tentunya gak merepotkan tetangga karena membantu menjemur” ungkuapnya (27/09/2021).
Memperhatikan ungkapan masyarakat diatas, kebutuhan panen tembakau sebenarnya hanya bergantung pada hari pertama jemuran. Jika jemuran maksimal maka pasti tembakau kering sempurna. Jemuran hari kedua dilakukan untuk menambah matang dari daun tembakau yang kering. biasanya jemuran kedua ini dilakukan di oleh pada siang hari, tergantung dari seberapa kering jemuran hari pertama.
Anomali cuaca sudah terjadi, sebagus apapun hasil tembakau harga kisarannya 30-35 ribu rupiah. Harga sebesar ini kalau dikalkulasi secara rinci sudah melebihi ke mudal dari awal, dengan kata lain mencapai untung. Tapi sebaliknya jika tembakau dihargai dibawah Rp. 30.000 jelas-jelas petani bisa dibilang sekedar balik modal, rugi bekerja karena melarat.
Achmad Suaidi,SP.M.Agr, selaku Bidang Produksi Pertanian berkomentar terkait harga tembakau pasca anomali cuaca. menurutnya yang menetapkan standar harga tembakau adalah DISPERINDAG Kabupaten Pamekasan bersama ormas-ormas namun pedagan tembakau juga berhak menetapkan harga sesuai dengan kualitas tembakau.
Penetapan harga tembakau pada kondisi anomali cuaca harus dipandang serius oleh pemangku kebijakan. harga tembakau hendaknya tidak digeneralisir (dipukul rata) karena faktor cuaca. Harus ada standar tertentu terkait harga agar kesejahteraan berpihak kepada masyarakat petani. Dengan demikian masyrarakat tetap semangat dalam bertani tembakau. Sebaliknya pembeli dari gudang-gudang besar mempunyai stok tembakau yang cukup dalam beberapa tahun kedepan.

