Kelompok Informasi Masyarakat


Rabu, 20 Oktober 2021

Daun Solang sebagai Harapan Ketiga Ekonomi Masyarakat saat Musim Tembakau

Pamekasan - Musim tani tembakau setiap tahunya selalu menyimpan harapan bagi segenap petani di Madura, sebab tembakau adalah salah satu pertanian yang diharapkan menjadi sumber ekonomi yang mampu menupang kebutuhan keluarga dalam satu tahun. Hanya saja dalam bertani termbakau tantangannya banyak sekali terutama modal awal, pegerjannya yang tidak gampang hingga sampai akhir proses penjemuran tembakau.

Bagi masyarakat petani sendiri bertani tembakau adalah resiko, sebab untuk memulainya terkadang perlu banyak pertimbangan yang dilakukan seperti meminjam modal. Belum lagi pengerjaannya yang cukup membutuhkan waktu, artinya tidak semudah pertanian lainnya. 

Di setiap daerah faktor atau masalah dalam bertani tembakau juga variatif mulai dari ketersediaan air, ketersediaan pupuk, jenis tanah yang ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Itu sebabnya pertanian tembakau tidak seperti pertanian lainnya yang mana sejak awal hingga akhir panenya banyak tantangan yang bisa berpotensi menjadikan gagal panen, belum lagi faktor cuaca yang sekadang anomali cuaca tidak menentu pasti membuat harga tembakau miring, sementara modal bertani tembakau yang dikeluarkan cukup besar.

Solang tembakau adalah harapan ketiga bagi petani. Solang begitu masyarakat madura menyebutnya, adalah daun tembakau yang berada di pucuk pohon tembakau. Daun ini masih sama secara fungsi dengan daun inti tembakau, bisa untuk dipanen dengan cara yang sama dengan daun inti, yang lebih penting juga laku untuk dijual seperti biasa, namun harganya tentu tidak setara dengan daun inti tembakau. Perbedaannya dari cara panen daun ini diperlukan waktu yang cukup “matang” saat proses pemeraman  (penyimpanan daun sebelum dirajang) sehingga dihasilkan daun yang lebih matang menguning dan hasil warna hingga aroma yang lebih bagus saat penjemuran.

Masyarakat Desa Bulay dan sekitaranya telah habis masa panen tembakau terhitung sejak sekitar awal Oktober. Namun tidak dengan daerah Kecamatan Proppo seperti di kawasan Desa Teja dan sekitarnya masih tengah berlangsung panen tembakau karena daerah tersebut lebih akhir memulai masa tanam tembakaunya. Sebelum masa Solang, biasaya berlangsung masa-masa penjualan “kerosok”, “grusuk” daun kering dibagian pangkal pohon tembakau yang diambil pra-panen atau pasca-petik daun tembakau. Menurut informasi masyarakat harga krosok tahun ini dibilang cukup stabil kisaran Rp. 3500-6000 per-renteng kerosok.

Untuk harga Solang sendiri biasaya masyarakat menjual daun hidup dan daun kering. Solang daun hidup dijual kiloan saat proses pemetikan, menurut informasi masyarakat Desa Bulay harga yang berkembang di masyarakat untuk Solang Hidup Rp. 1000-2000 perkilonya. 

“solang daun hidup harganya seribu rupiah sampai dua ribu rupiah perkilo, kalau solangnya kecil-kecil itu seribu. Yang lebar-lebar 2000 itu sudah sama ongkos petikannya. Ada juga orang yang jual di pohon jadi pembeli metik sendiri solangnya. ”. Turut Tuna warga Dusun Bulai (20/10/2021).

Sementara Solang kering dijual layaknya proses panen tembakau, melalui proses pemetikan, penyimpanan daun, perajangan, penjemuran hingga dibungkus. Menurut masyarakat Desa Bulay jika harga tembakau stabil tidak ada gangguan dari cuaca dan sebagainya lebih baik daun solang dijual keringnya. Hanya saja jika harga tidak bagus untuk daun solang maka rugi karena proses mengeringkan daun solang sama butuh modal layaknya daun inti tembakau, seperti ongkos pekerja mulai dari pemetikannya, ongkos mesin rajang, dan pemindahan ke alat jemur semua butuh biaya.

Hannan salah satu warga Desa Bulay memberikan keterangan terkait harga solang, menurutnya tahun ini harga solang kering tidak stabil, tawaran pedangan sangat murah tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.

“Tawaran pedagang sangat murah rata-rata nawar delapan ribu rupiah, mau dapat apa? Yang ada rugi, harga segitu tidak nututi untuk ongkos pekerja mulai metik hingga dirajang. Kalau harga masih belasan ribu mungkin masih wajar”. terang Hannan (20/10/2021).

Sementara informasi dari Kholis salah pekerja gudang tembakau di Pamekasan menyebutkan, untuk harga solang kisarannya menempati harga belasan ribu. Menurutnya itu tergantung dari kualitasnya juga.

“ada yang sepuruh ribu, sampai lima belas ribu paling tinggi kalau solang, itu tergantung dari kualitas daun solangnya. Artinya jika kering bagus solang itu bisa lima belas ribu, tinggi rendah harga solang itu tergantung dari apakah daunnya cukup matang, dan dijemuran juga bagus bentuk dan aromanya ”. ungkapnya kepada warta KIM Bintang (20/10/2021).

Terlepas dari kualitas solang dan harga yang dinilai terlalu rendah, masyarakat perlu diperhatikan salah satunya oleh pemangku kebijakan harga tembakau. Karena masih banyak masyarakat yang berharap daun solang memiliki harga yang relatif stabil. Sehingga solang lebih bernilai dan menjadi harapan ketiga dari pohon tembakau yang meghasilkan ekonomi.

(Ahs)



banner