| Sumber: https://www.pertanian.go.id/ |
Pamekasan – Bulan november masyarakat petani di daerah Pamekasan dan Madura pada umumnya bersiap memasuki siklus pertanian padi. Siklus pertanian masyarakat biasanya ditandai dengan berakhirnya musim tembakau, sayangnya terjadi anomali cuaca pada tahun ini sehingga beberapa kawasan di Kabupaten Pamekasan tidak maksimal masa panen tembakaunya di bulan Oktober.
Memasuki musim tanam padi banyak masyarakat mengeluhkan kelangkaan pupuk. Menurut informasi yang dihimpun dari masyarakat yang tersebat di Desa-desa yang berada di Kecamatan Galis diantaranya Desa Bulay, Polagan, Konang, dan Tobungan rata-rata petani menyebutkan kesulitan pupuk untuk persiapan memasuki musim tanam padi.
Hannan warga Desa Bulay mengatakan dirinya kesulitan pupuk, sampai mencari ke beberapa toko yang biasa menyediakan pupuk namun hasilnya nihil. Bahkan ia mengatakan harus nitip uang untuk mendapatkan jatah pupuk dengan jaminan harga yang belum pasti.
“sangat sulit pupuk sekarang, bahkan saya sampai mencari ke toko-toko yang biasa sedia pupuk itu sampai sekarang masih kosong. Kalau mau pesan harus nitip uang dulu tapi harganya belum diketahui berapa pastinya. Kabarnya ada tapi lebih mahal, yang biasanya Rp 120.000 kabarnya menjadi 160.000 itupun belum pasti dimana yang jual.” Ungkapnya (29/10/2021).
Sebaliknya dengan Bahrur warga Desa Polagan menuturkan informasi yang sama. Menurutnya sekarang pupuk sulit untuk didapatkan, ada uang untuk membeli saja masih tidak jelas dimana yang jual. Ia pun mengaku khawatir tidak dapat pupuk sementara musim penghujan sudah tiba dan masyarakat butuh pupuk.
“saya bingung mau cari kemana untuk persediaan pupuk menghadapi musim padi. meski ada uang kalau sekarang belum tentu ada yang langsung jual, kalaupun ada pastinya harga lebih mahal dari biasanya. Demi persediaan pupuk kalau saya tidak masalah asal ada pupuknya.” Ujarnya (29/10/2021).
Sania warga Desa Tobungan mengakatan bahwa ia sudah menyetor uang untuk beli pupuk namun sampai saat ini belum datang pupuknya. Selebihnya ia mengakui ada sedikit persiapan untuk pupuk yang telah dibelinya disisa musim lalu.
“saya sudah setor uang Rp. 400.000 untuk membeli pupuk tapi barangnya belum diantar mungkin belum datang pupuknya. Untuk persediaan musim ini sebenarnya ada sudah tapi sedikit.” Ujarnya (29/10/2021).
Lebih lanjut Sania mengungkapkan bahwa jenis pupuk yang sulit itu pupuk Urea, menurutnya harga yang tersebar di masyarakat antara Rp. 150.000 sampai 160.000/sak. Berarti selisih sekitar Rp. 30.000 sampai 40.000 dari harga biasanya (110.000- 120.000).
Soal kelangkaan pupuk memasuki tanam padi, Hindra Eka Hariyanto selaku Kasubag Perencanaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pamekasan mengatakan bahwa menurut analisanya ada beberapa hal yang harus diluruskan. Pertama partisipasi masyarakat pada program Kelompok Tani kaitannya dengan ketersediaan pupuk, Kedua penggunaan dosis pupuk itu sendiri.
“pertama begini, masyarakat harus aktif di kelompok tadi, kebanyakan masyarakat tidak mau ikut kelompok tani sehingga untuk mendapatkan pupuk bersubsidi itu juga sulit. Kalau pupuk non subsidi saya rasa tidak sulit. Sekarang ini ada yang namanya Kartu Tani, mau aktif mau pasif yang penting terdata di kelompok tani, nanti subsidi pupuk turun kesitu.” Ujarnya (29/10/2021).
Lebih lanjut pria yang akrab dipanggil Bapak Hindra menyampaikan bahwa hal kedua yang menjadi sulitnya pupuk karena masyarakat memasuki musim tanam padi ambisi mempersiapakanya lebih dari ukuran. Artinya dosis pupuk tidak diperhatikan oleh kebanyakan masyarakat petani, persepsinya dengan sedia pupuk sebanyak-banyaknya akan menjadikan tanaman bagus justru sebaliknya. Namun untuk memperbaiki kaulitas tanah memang bagus untuk. Sehingga perlu penyeimbang dari pupuk organik agar kebergantungan pada pupuk kimia berkurang.
Selain itu di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pamekesan telah menerima dana dari DHBCHT untuk tahun 2021. Namun terkait pupuk menurut Ach Suaidi selalu Kapala Bidang Produksi dana DBHCHT yang diterima tidak mengcover pada keperluan pupuk masyarakat.
“dana DBHCHT yang diterima dinas kami tidak mengcover pupuk bagi masyarakat. karena dana tersebut diperuntukkan untuk beberapa sub kegiatan saja. Artinya tidak ada alokasi dana DBHCHT pada pupuk dalam bentuk apapun,” (29/10/2021).
lebih lanjut beliau menyampaikan akan melaporkan perkembangan ketersediaan pupuk setelah melaksanakan pengecekan di Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida.
